Sunday, May 31, 2020
   
TEXT_SIZE

Menangkal Paham Radikal, POLRI dan PTNU Jalin Kemitraan

Semarang-kopertis6.or.id - Program sinergi kemitraan antara aparat kepolisian (Polri) dalam menangkal paham radikalisme dan gerakan terorisme di Perguruan Tinggi (PT), bersama Badan Eksekutif Mahasiswa dibawah Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (BEM PTNU) se-Nusantara, bekerjasama untuk mengadakan kegiatan seminar nasional  bertemakan “Meneguhkan Kembali Peran PTNU Dalam Menangkal Radikalisme dan Terorisme” Sabtu, 28 April 2018.

Kegiatan yang dihadiri  500 mahasiswa dari tujuh puluh lebih PTNU se-Nusantara, kalangan civitas akademika, ulama, dan tokoh masyarakat ini diselenggarakan di halaman kampus kedokteran Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang-Jawa Tengah. Seminar tersebut sekaligus menjadi penanda dimulainya kongres BEM PTNU se-Nusantara ke-VI.

Rektor Unwahas Prof Mahmutarom HR mengatakan, seminar kontraradikalisme dan kontraterosime didasari adanya keprihatinan mahasiswa BEM PTNU atas situasi keamanan nasional, dimana paham radikal menyasar mahasiswa dan pelajar untuk menyebarkan idiologi mereka.

Hal senada  diungkapkan  Staf Ahli Kapolri Irjen Pol Gatot Edy Pramono saat menjadi pembicara dalam seminar tersebut. Radikalisme dan terorisme adalah tantangan bagi kita semua. Unwahas melakukan kegiatan ini sangat bagus karena peran mahasiswa, PT sangat penting.

“Hasil penelitian Alex P Schmid dan Albert J Jongman yang menyatakan bahwa dari 109 definisi terorisme ditemukan 83,5 % mengandung unsur kekerasan, 65 % berisikan tujuan politik dan 51 % untuk menimbulkan rasa takut dan teror,” papar Gatot dihadapan mahasiswa.

Kasubdit Bidang Komunikasi Intelkam, AKBP Suhaimin yang ikut hadir dalam seminar tersebut mengatakan, sebagai bentuk dukungan Polri dalam kegiatan seminar ini, Polri menghadirkan salah satu mantan teroris yang pernah terlibat kegaiatan pelatihan basis militer di Aceh tahun 2010 untuk bisa memberikan testimoni kepada mahasiswa secara langsung.

Suhaimin menjelaskan, kehadiran mantan pelaku teror diharapkan bisa memberikan pemahaman kepada mahasiswa, bahwa siapa saja bisa terpapar paham radikal. Pernyataan itu dikuatkan dengan latar belakang Yudi Zulfahri, mantan teroris yang dihadirkan sebagai salah satu pembicara dalam seminar tersebut, merupakan lulusan STPDN yang sudah tidak diragukan lagi wawasan kebangsaannya.

Diakhir acara seluruh mahasiswa sepakat untuk merumuskan empat poin utama yng tertuang dalam Deklarasi Kongres Bem PTNU, yakni Menolak dengan tegas segala bentuk radikalisme dan paham-paham ekstrim lainnya, mengajak seluruh komponen bangsa untuk melakukan upaya pencegahan penyebaran faham dan gerakan Radikalisme, terorisme dan Ideologo yang bertentangan dengan pancasila dan UUD 1945, menanamkan dan mengembangkan nilai-nilai ajaran islam Ahlussunah Wal Jamaah (Aswaja) Nusantara yang moderat, menghargai kemajemukan dan penerus budaya dan bangsa, serta menjadikan PTNU sebagai pusat kaderisasi paham kebangsaan.

Tampak gambar : Dialog interaktif Polri dengan mahasiswa BEM PTNU, menghadirkan  mantan teroris (dua dari kanan) 

COMMUNITY

Materi Pelatihan