Wednesday, June 03, 2020
   
TEXT_SIZE

Genap Usia 36, UPGRIS Perlu Penguatan 4 Aspek


Semarang-kopertis6.or.id - Peristiwa Dies Natalis bagi sebuah perguruan tinggi bukan hanya sebagai penanda bertambahnya usia, tetapi yang lebih penting adalah sebagai penanda meningkatnya kedewasaan dan kematangan dalam berkarya.  

“Dies Natalis menjadi momentum yang sangat strategis untuk menguatkan tekad dan semangat dalam rangka mengaktualisasikan dan mewujudkan semangat awal berdirinya perguruan tinggi ini melalui pencapaian visi dan misi Universitas PGRI Semarang (UPGRIS).” 

Hal tersebut disampaikan Koordinator Kopertis VI, Prof. DYP. Sugiharto dalam pidatonya saat menghadiri acara seremonial Dies Natalis ke-36 yang berlangsung di kampus UPGRIS baru-baru ini (24/7) 

Dikatakan oleh Prof. DYP Sugiharto, dengan memasuki usia 36 tahun dan progres prestasi yang membanggakan mengindikasikan UPGRIS eksis dan semakin mendapat kepercayaan dari masyarakat. Tetapi, hari ini kompetitor-kompetitor dari perguruan tinggi lain terus berdatangan, dan terus memacu ketertinggalan dari sisi usia. Maknanya tidak cukup mengandalkan lamanya usia untuk berkompetisi di masa depan. 

“Dalam suasana yang sangat bermakna ini, dalam rangka pencapaian visi dan misi UPGRIS kami menyampaikan harapan dan ajakan yang saya kemas menjadi “empat semakin”. Pertama, dengan usia 36 tahun ini UPGRIS semakin menguat. Kedua, semakin terlibat. Ketiga, semakin bersama. Keempat, semakin adaptif.” tegasnya 

Orang nomor satu dijajaran Kopertis VI tersebut menaruh harapan kepada UPGRIS untuk semakin menguat yang difokuskan pada penguatan yang terkait dengan peningkatan integritas. Selain itu, UPGRIS  juga harus semakin terlibat. “Hari ini marak dan kompleknya persoalan yang semakin banyak dan semakin komplek, disamping kata persoalannya pertambah juga makin berkembang fenomena banyak orang yang diam dan mendiamkan.” bebernya 

Ia menambahkan, akan menjadi  lebih miris lagi, sebenarnya mampu dan memiliki kompetensi, tetapi memilih diam dan mendiamkan. Di lingkup kampus ini penguatan agar semakin terlibat menjadi kunci perkembangan dan kejayaan UPGRIS ke depan. “Terlibat ke dalam seluruh komponen UPGRIS semakin terlibat, dan terlibat keluar institusi ini harus meningkatkan kemampuannya untuk berkontribusi menyelesaikan persoalan-persoalan di luar kampus.” pintanya 

Selanjutnya, UPGRIS perlu semakin bersama. Kebersamaan merupakan suatu fenomena suatu kondisi yang sangat dahsyat. Dalam kebersamaan kita menjadi lebih solid. Perkembangan perguruan tinggi yang semakin besar seperti UPGRIS, tantangannya adalah membangun kebersamaan. Begitu pula UPGRIS perlu semakin Adaptif, dimana dinamika kehidupan saat ini senantiasa berkembang, termasuk manajemen dan tata kelola perguruan tinggi. 

Guru Besar UNNES tersebut menggarisbawahi, bahwa untuk menyiasati hal ini sebagai kata kunci  bukan pada kecerdasan intelektual dan kepintaran memimpin, tetapi kecepatan dalam beradaptasi. “Banyak perguruan tinggi gagap dan gagal  memanaj perguruan tinggi masa depan, karena lambat beradaptasi. Biasanya perguruan tinggi yang lambat dalam beradaptasi cenderung menggunakan gaya kepemimpinan devensif dan nostalgia. Mereka-mereka ini cenderung menyalahkan pihak lain, dan senang menarik-narik dengan kesuksesan masa lalu. Padahal masa lalu berbeda dengan hari ini, sehingga dinamika masa lalu sudah tidak relevan lagi diterapkan dengan situasa yang ada sekarang ini.” tandasnya

Prof. DYP Sugiharto menyarakan untuk mengurangi dan mengeliminir sikap devensif dan juga sikap untuk selalu bernostalgia dengan kejayaan masa lalu yang belum tentu cocok dengan dinamika saat ini. “Dalam konteks semacam ini, kekuatan kita menjadi kekuatan yang adaptif. Sangat mudah dikatakan, tetapi tidak mudah diimplementasikan.” 

COMMUNITY

Materi Pelatihan