Wednesday, April 01, 2020
   
TEXT_SIZE

Tak Ada PTS Jateng Gulung Tikar

SEMARANG- Kualitas Perguruan Tinggi Swasta (PTS) perlu diperbaiki untuk menyesuaikan perkembangan dunia industri yang semakin membutuhkan tenaga kHal itu pula yang bisa membuat PTS eksis dan tidak kalah bersaing dengan Perguruan Tinggi Negeri (PTN) yang semakin aktif merekrut calon mahasiswa.

Hal tersebut dikatakan Koordinator Kopertis Wilayah VI Jawa Tengah Prof Mustafid MEng Phd, Rabu (23/3), merespons pernyataan Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Muhammad Nuh yang menyebutkan sekitar 30% atau sekitar 800 PTS di Indonesia gulung tikar.

Berdasarkan data, jumlah PTS di Indonesia mencapai 3.017 buah yang meliputi institusi akademi, sekolah tinggi, institut, dan universitas. Menurut Mustafid, jika PTS mau bersaing dengan kuat harus bisa beradaptasi dengan kebutuhan masyarakat dan kreatif. Sebab, tuntutan di bidang bisnis dan kebutuhan tenaga kerja sedang terjadi perubahan yang cepat.

Pihaknya mengaku sudah menginstruksikan kepada para pengelola PTS di Jateng agar lebih berkonsentrasi meningkatkan kompetensi dan sertifikasi para mahasiswa sesuai keinginan dunia industri, karena mahasiswa yang nantinya menerima pekerjaan dari industri.

Terkait fasilitas gedung maupun sarana prasarana lain termasuk laboratorium, menurutnya, sudah dimiliki mayoritas PTS. “Banyak dosen yang juga berkualitas, tapi memang kompetensi dan profesionalitasnya perlu ditingkatkan diiringi perbaikan kurikulum PTS bersangkutan,” tandasnya.
Bersaing Sehat Di sisi lain, Mustafid memperingatkan agar antar-PTS bersaing dengan sehat dan tidak memperebutkan calon mahasiswa. “Sebab, yang terjadi seringkali PTS besar aji mumpung dengan menerima mahasiswa sebanyak-banyaknya guna mendapat income sebanyak-banyaknya.
Sementara PTS kecil terjepit dan kesulitan membiayai operasional, karena sumber pemasukan amat bergantung dari SPP atau pungutan dari mahasiswa,” ungkapnya.

Terkait kondisi di Jateng selama tiga tahun terakhir, menurutnya, tidak ada PTS yang gulung tikar. Namun, ada beberapa yang tinggal nama. Artinya, berbagai fasilitas, dosen, termasuk perizinan, masih ada, hanya mahasiswanya yang tidak ada.

Bagi PTS yang “mati suri” tersebut, Kopertis Wilayah VI Jateng akan mendampingi hingga mampu mandiri. Pendampingan dalam bentuk penyusunan kurikulum yang lebih baik, peningkatan mutu dosen, dan fasilitas perkuliahan yang lebih representatif, termasuk laboratorium.
“PTS diharapkan bisa memberi pelayanan lebih baik kepada masyarakat, sehingga secara otomatis banyak orang yang memilih kuliah di PTS bersangkutan,” tutur dia.

Namun, bagi yang yayasannya menyatakan diri sudah tidak mampu lagi membiayai operasional sehari-hari, Mustafid menyarankan segera mengajukan pengunduran diri ke Ditjen Dikti Kemdiknas RI melalui Kopertis. “Harapannya, tidak memberikan kesan negatif bahwa PTS sulit berkembang. Padahal, kenyataannya kan tidak bisa seperti itu,” katanya. (H70-37)erja dengan kualifikasi yang kompleks dan lebih baik.

Sumber  http://m.suaramerdeka.com

COMMUNITY

Materi Pelatihan